Meulaboh, Aceh Barat – Lembaga Pelatihan Kerja Swasta (LPKS) Rumoh Rakyat di bawah Yayasan Wahana Generasi Aceh (WANGSA) resmi berdiri. Peresmian dilakukan oleh Wakil Bupati Aceh Barat, Said Fadheil, S.H., bersamaan dengan penutupan rangkaian kegiatan Aceh Barat Digital Creator Academy 2026 di Aula Cabdin Aceh Barat, Sabtu (26/9/2026).
Ketua Yayasan Wahana Generasi Aceh sekaligus Penanggung Jawab LPKS Rumoh Rakyat, Jhony Howord, mengatakan gagasan itu telah menjadi bagian dari manifesto WANGSA sejak organisasi tersebut berdiri.
Setahun sebelumnya, pada 26 September 2025, WANGSA meresmikan Rumoh Rakyat di Desa Langung, Meureubo. Tempat itu sejak awal dirancang bukan sekadar ruang diskusi, melainkan ruang bagi anak muda untuk belajar dan meningkatkan kapasitas.
“Rumoh Rakyat bukan cuma tempat berdiskusi dan membaca. Kami ingin membangun ruang di mana anak muda bisa mengembangkan keterampilan,” kata Jhony dalam sambutannya.
Kini gagasan itu bergerak ke tahap berikutnya.
Melalui LPKS, WANGSA ingin menghubungkan pelatihan dengan kebutuhan nyata di lapangan. Program tidak berhenti pada proses belajar dan pemberian sertifikat, tetapi diarahkan hingga peserta memiliki akses menuju dunia kerja.
Jejak awal model tersebut terlihat dari Aceh Barat Digital Creator Academy 2026. Sejumlah peserta yang menyelesaikan pelatihan kemudian diterima dan bekerja bersama mitra di Aceh Barat.
Bagi Jhony, hal itu penting karena persoalan pelatihan kerja tidak selalu terletak pada ada atau tidaknya program. Persoalannya adalah apa yang terjadi setelah pelatihan selesai.
“Kami ingin keterampilan yang diperoleh benar-benar menjadi bekal, bukan sekadar selembar sertifikat,” ujarnya.
Jhony mengatakan perjalanan WANGSA dibangun dari kegelisahan terhadap berbagai persoalan sosial dan pendidikan. Anak muda yang kritis, katanya, kerap dianggap keras kepala karena tidak mudah berkompromi dengan keadaan.
Namun bagi dia, mempertahankan prinsip tidak cukup jika hanya berhenti pada kritik. “Perjuangan tidak boleh berhenti pada kritik. Kita harus naik satu tingkat menjadi bagian dari perubahan itu sendiri,” kata Jhony.
Dalam kerangka itu, LPKS Rumoh Rakyat ditempatkan sebagai salah satu instrumen untuk menjawab persoalan, mempertemukan keterampilan, kebutuhan tenaga kerja, dan kesempatan kerja.
Pada acara peresmian, WANGSA memberikan sertifikat apresiasi kepada lima pihak yang dinilai berkontribusi dalam pengembangan program.
Penghargaan diberikan kepada Ryan Anugrah, Direktur Utama PT Tryan Realty Anugrah, atas dukungan pendanaan dalam pengembangan instruktur konten kreator yang tersertifikasi BNSP dan Training of Trainers.
Apresiasi juga diberikan kepada Dedi Mulianda, S.IP., M.Si., Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Kabupaten Aceh Barat, serta Nerlan Idwar, Ketua PK KNPI Johan Pahlawan. Keduanya telah menerima dan mempekerjakan lulusan Aceh Barat Digital Creator Academy 2026.
Penghargaan berikutnya diberikan kepada Aryo Brotoseno N, S.Si., Kepala Bidang Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja Distransnaker Aceh Barat, atas dukungan terhadap pelaksanaan program pelatihan dan penyerapan tenaga kerja.
Sementara itu, CREAVA SPACE atau CV Rencong Aceh Persada mendapat apresiasi atas kerja sama dalam membuka peluang kerja bagi kreator digital di Aceh Barat.
Wakil Bupati Aceh Barat Said Fadheil mengatakan keberadaan LPKS perlu diikuti hubungan yang kuat dengan dunia usaha.
Menurut dia, pelatihan digital creator memiliki peluang untuk menjawab kebutuhan tenaga kreatif di daerah. Salah satu persoalan yang perlu diatasi adalah ketergantungan perusahaan lokal terhadap tenaga kreatif dari luar daerah.
Said mendorong LPKS Rumoh Rakyat memperluas kerja sama dengan dunia usaha agar pelatihan tidak berakhir pada sertifikat.
“Orang pintar itu banyak, tetapi orang yang memiliki attitude baik dan dapat dipercaya adalah yang paling dicari dan bertahan lama,” kata Said kepada peserta pelatihan.
Ia juga mengingatkan peserta agar tidak menganggap pelatihan sebagai akhir dari proses belajar.
Pesan itu sekaligus menjadi tantangan bagi LPKS Rumoh Rakyat. Sebab, ukuran keberhasilan lembaga pelatihan pada akhirnya bukan hanya jumlah peserta, instruktur, atau sertifikat yang diterbitkan, melainkan sejauh mana keterampilan tersebut dapat digunakan di dunia kerja.
WANGSA menyatakan seluruh keuntungan dari kegiatan LPKS Rumoh Rakyat akan dikembalikan untuk mendukung program sosial dan kemasyarakatan organisasi.
Bagi Jhony, pendirian LPKS baru merupakan awal. “Ini belum selesai. Justru ini baru permulaan,” katanya.
Dari LPKS Rumoh Rakyat, WANGSA kini mencoba membangun satu mata rantai yang selama ini kerap terputus dari ruang belajar, menuju keterampilan, lalu ke pekerjaan.
Jika mata rantai itu berjalan, pelatihan tidak lagi sebagai kegiatan. Ia menjadi jalan bagi anak muda untuk masuk ke dunia kerja dan, pada saat yang sama, membangun ekosistem tenaga kreatif dari Aceh Barat sendiri.


